Sabtu, 18 Maret 2017

S2, Bekerja, atau Menikah?

Tanpa bantuan kaum feminis, wanita di mata Islam telah diagungkan sebelumnya. Ia sama derajatnya dengan kaum pria. Bahwa baik pria maupun wanita berkah mendapat pahala, berhak mendapat surga, berhak akan perjumpaan dengan Tuhan Allah azza wa jalla.

Barang siapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikit pun.
[An Nisa’: 124]

Maka sebenarnya terkait menuntut ilmu pun sama. Karena dalam sebuah hadits disebutkan pencarian ilmu diserukan kepada semua lapisan. Baik pria maupun wanita. Bahkan pencarian ilmu dimulakan sejak bayi di dalam kandungan hingga ruh dicabut dari badan. Uthlubil ‘ilma minal mahdi ilal lahdi, begitu bunyi sebuah hadits shahih.

Kesempatan menuntut ilmu, melanjutkannya ke jenjang yang lebih tinggi adalah juga sebuah peluang. Strata dua misalnya. Hatta meski ia seorang wanita. Namun bagi wanita yang sudah menempuh strata satu, hal ini masih menjadi kegelisahan tersendiri.

Ditambah andaikata datang seorang lelaki melamar. Ini terkadang juga merumitkan. Karena animo yang beredar di masyarakat, tidaklah mudah menjalani kuliah sembari menikah.

Jadi, lanjut S2 atau menikah? Atau, karena sudah memiliki gelar, banyak pekerjaan halal menggiurkan datang memberi peluang kerja. Sehingga pelanjutan ilmu di bangku formal, rasa-rasanya tak lagi diperlukan. Sedang gairah akan mencari ilmu sedang menggebu.

Kuliah, menikah atau bekerja saja?

Ini bukan tentang iklan pemutih wajah itu. Hanya realita yang menjadi kegalauan para wanita selepas kuliah. Pertanyaan semacam seringkali melintasi benak. Membutuhkan jawaban dan kepastian.

Ambil saja apa-apa yang ringan. Yang sama kadarnya dengan kemampuan. Jika mendapat beasiswa S2 ke luar negeri contohnya. Amat disayangkan jika harus dilepaskan. Terlebih, perjuangan untuk mendapatkannya juga lumayan. Jadi, lanjutkan!

Perkara pangeran yang datang kemudian, bisa saja diajak bersama. Berjuang di negeri orang. Lagi pula ada banyak beasiswa yang juga menawarkan biaya untuk pasangan. So, don’t worry losing your dream, girls!

Nah, jadi bisa ambil keduanya kan? Kerja juga bisa sambil dijalankan. Disarankan berkarir yang sesuai dengan passion. Jadi menjalaninya bisa dengan happy setiap hari. Sehingga jika hobinya menulis, bisa menjadi penulis. Menulis buku atau yang lebih ringan dituangkan di blog. Banyak lho wanita-wanita berpenghasilan lumayan dari blog.

Suka craft, mengutak-atik komputer, desain atau berdagang? Cus, jalankan yang sesuai minat. Wanita yang sukses dari berjualan online juga tidak sedikit jumlahnya. Kenali passion kemudian take action.

Wah, bisa jalan ketiga-tiganya ya. Bismillah.

Tapi yang pasti kembalikan lagi semuanya pada jalan Allah. Pastikan S2 diniatkan untuk Allah, kerjanya yang halal. Yang penting semua yang dikerjakan adalah hal-hal yang mendekatkan pada Allah. Tentang pasangan, pastikan pilih yang sholeh ya!

*published on Minhaj 73 ed

Selasa, 27 Desember 2016

Itsar dan Ibadah


Itsar, mementingkan, mendahulukan saudara muslim kita dibandingkan diri kita sendiri.

Allah juga memakai istilah ini dalam kalamNya yang menerangkan kokohnya kekerabatan, persahabatan Muhajirin dan Anshar. Padahal tak ada yang menyatukan mereka kecuali kedatangan Islam.

..wa yu'tsiruuna 'ala anfusihim wa lau kaana khashaashah
-Al Hasyr: 9

Namun demikian, itsar tak boleh diterapkan dalam hal ibadah.
Tak boleh kita mengatakan, "silahkan antum duluan," misalnya ketika akan mengambil wudhu. Silahkan antum duluan, misalnya dikatakan karena sempitnya tempat sholat sehingga kita mendahulukan saudara kita untuk memakainya terlebih dahulu.

Tidak.

Dalam hal ibadah, tak ada dulu-duluan, mendahulukan saudara kita. Yang ada fastabiqul khairat, berlomba-lomba dalam kebaikan.

Belomba siapa di antara kita akan yang wudhu duluan.

Berlomba siapa di antara kita-kita yang baris terlebih dahulu di belakang imam.
Begitulah seharusnya.

Tak boleh misalnya seorang lelaki menyilahkan saudaranya untuk mengkhitbah terlebih dahulu wanita yang padahal selama ini diincarnya.
Ketahuilah, ikhwah fillah bahwa menikah adalah ibadah. Bahwa menikah adalah sebagian dari sunnah yang diajarkan Rasulullah. Yang menandakan bahwa cinta itu fitrah.

Tidak.

Tidak ada itsar dalam hal ini. Jika ia memang cenderung padanya, seseorang engkau ketahui baik agamanya maka datanglah sang pangeran menjemputnya di istana untuk mempersuntingnya. Membawa sang Rapunzel dari kastilnya yang tinggi.
Itsar mestilah diletakkan pada tempat yang seharusnya.

Begitulah Habiburrahman El Shirazhy mengisahkan dalam kitab cinta, "Ketika Cinta Bertasbih."

Masih menunggu Azzam datang ke Klaten menjemput Anna

Minggu, 04 Desember 2016

Thesis Proposal Seminar Preparation




Angkat tangan dong yang lagi atau mau seminar, raise your hand up.. Yang belum, semoga dimudahkan. Bismillah ya semoga semuanya dilancarkan. Hanya ingin berbagi saja, tentang perlengkapan, what you have to do in preparing thesis proposal seminar. Especially for you, English Department Student of  UTM. In case, beberapa bulan terakhir banyak banget yang mau seminar. Lumayan lha bisa buat investasi. Kalau ada yang nanya nanti, tinggal sodorin tulisan ini. 

Yuk ah langsung cekidot. Tentang apa saja yang perlu kamu persiapkan sebelum seminar diselenggarakan. Ikimashou..

Bimbingan!
Yap, ini yang paling penting. Rajin bimbingan, agar dosen pembimbing tahu isi skripsimu. Lanjut terus bimbingan. You should force your slef to do it. Meski, kadang pas bimbingan dapet bingkisan bunga krisan (baca: komentar nyelekit), ya lanjut aja. Itulah gunanya taman, terdapat berbagai macam jenis bunga *eh ><

Jujur, aku pun pernah berlinang air mata selepas skripsian sama dosen. Alasannya? Kalo ingin tahu lebih lanjut minta link videonya sama malaikat, haha. Tapi ya gitu, kita tak boleh patah semangat gegara itu. Kasus ini, banyak banget lho. Banyak, buanyaak! Ngilang berbulan-bulan dan nggak balik-balik. Yang kaya gini nih nggak boleh ditiru ya.

Rajin bikin jadwal sama dosen. Kalo minggu ini full, sibuk tak bisa ditemui, incar saja terus sampai beliaunya punya spare time for you

            Maaf Selasa ada rapat jurusan
            Maaf Rabu rapat dinas
            Maaf minggu depan full di luar kota

Aku suka gitu, incar meski sampai minggu depan, depannya lagi. Pokona mah, kan kita yang perlu, jadi urang dewe (code swicting euy bahasanya -_-‘) yang kudu usaha. Yuk, jangan patah semangat!

Tapi ada juga beberapa dosen yang punya jadwal tetap bimbingan. Nah, kalau sudah ditentuin begitu, jangan ngilang. Harus datang! Penuhi hak bimbingan kita, nanti dibilang korupsi waktu lho.

Selain rajin bimbingan pastinya memperbanyak wawasan dengan membaca. Baca thesis, journal that related to our topic. Koleksi dari berbagai uni, yang banyak kalau perlu. FYI aja, punyaku sampai 3 giga referensinya. Itu isisnya pdf semua. Temenku lebih keren sampai 4 giga. Itu dulu pas awal dia skripsian, sekarang mungkin sudah lebih.

Banyak baca nggak memihak apakah kita jurusanya literature atau linguistics. Yang namanya anak skripsian mah perlu itu. Kita menulis skrips, sama halnya dengan mengisi gelas kosong. Jadi perlu banyak baca untuk memenuhi teko pikiran. Tak ada yang bisa kita tuang kalau ilmunya kosong. Nanti malah jatohnya copas, atau gugel translet, aduh itu mah mahasiswa ala-ala. Jangan deh.. kamu kan mahasiswa sastra.

Perlengkapan
Kalau rajin bimbingan,  nanti akan mudah ACC proposalnya. Jangan sampai nanti dibilangin begini sama dosbingnya, baru bimbingan dua kali sudah mau ACC..*kasus seorang teman. 

Tapi kembali ke dosen dan kapabilitas kita ngerjainnya. Ada yang cuma bimbingan 3 kali terus sidang, itu sih orang keren macam Abi yang emang dari sono cakep pemikirannya. Kalo kaya kita mah, yang IQnya pas-pas emang kudu usaha lebiih, lebih berusaha.   
   
So, apa saja yang perlu dipersiapkan? 

Nah setelah proposal dinyatakan ACC, segeralah cari dosen pembahas. Di prodi kita, Sastra Inggris memang beda dengan Teknik Informasi yang dosen pembahasnya dicariin dan ditentuin prodi. Kudu usaha lebiih, lebih berusaha.

List dulu dosen-dosennya. Mana yang sastra, mana yang linguistik. Nah, cari yang memang incredible di bidangnya. Misalnya skripsinya pakai teori ekranisasi atau adaptasi, maka usahakan dosen pembahasnya Ms. Iin atau Ms.Zakiyah yang memang mengajar mata kuliah itu. Atau ambil tema fonetik bisa ke Sir Salim yang memang expert di bidang fonetik-fonologi.
 
Cari waktu kosongnya kapan. Cek di  jadwal mata kuliah jurusan. Jadwal sastra inggris semester ganjil 2016-2017 bisa di donlot di sini.

Temui dosennya, tanyakan bisa atau tidaknya beliau menjadi dosen pembahas kita. Datangi beliau, jangan dihubungi lewat BBM, WA ataupun sms. Asa teu sopan. Download undangan seminarnya di sini.

Jika sudah fix dosen dan waktunya juga. Saatnya pergi ke TU FISIB, ambil formulir untuk pinjam gedung buat sempronya. Di sana petugasnya ramah yang bisa membantu keperluan kita

Isi nama tempat, tanggal peminjaman dll dan minta tanda tangannya Pak Iqbal dan Ms.Erika. Selesai minta  tanda tangan, kembali lagi ke sana, menyerahkan form. Jangan lupa bawa KTM, biasanya diminta sama petugasnya untuk ditinggalkan di sana sebagai jaminan. Baru boleh diambil nanti setelah sempro selesai.

Waktu ke ruang TU, sekalian mampir ke Bu Yanti untuk mengurus transkip nilai. Biasanya memakan waktu 2-3 hari atau kadang seminggu. Jadi harus jauh-jauh hari. Kalau aku sejak awal semester ngurusnya :D Tapi tergantung lagi hectic atau enggak. Untuk mengurus ini kamu harus mengumpulkan KHS dari semester satu-akhir. Kalau KHSnya hilang bisa langsung print out dari portal akademik.

Udah kelar, difotokopi. Nanti transkipnya kumpulkan ke Ms. Rininta di prodi. Satukan di dalam  map kuning dengan berkas-berkas lainnya:

Satu bundel proposal yang telah disetujui. Ini approval sheetnya.

Formuir A dan B yang nantinya dibubuhi tanda tangan kita, dan dosbing. Download form.

Terakhir, fotokopi kartu bimbingan. Pastikan setiap kali bimbingan mengisi form. Download di sini.

Sekalian cek plagiarism proposalmu ke Ms.Rininta. Di jurusan kita nggak boleh lebih dari 25%. Keren ih kemaren ada anak linguistik yang dapetnya 0%. Shugoi! Biasanya dosbing yang minta untuk bukti keoriginalitasan tulisan kita.

Cetak skripsi sudah, pinjam gedung sudah, maka saatnya untuk bikin PPT. bikin yang simpel dan eye-catching biar para peserta mendengarkan penjelasan kita di depan. Siapa tahu bisa jadi inspiring PPT :D
 
Jangan lupa PPTnya di-print dan difotokopi untuk dibagi-bagiin ke para peserta seminar.

Oia, cari moderator yang bisa mengatur berjalannya acara. Terus ada lagi,  print berita acara, lembar penilaian, sama lembar revisi untuk masing-masing dosen pembahas dan ditaro di map kuning. Nah,sip mantap. Lengkap deh. Download di sini.

Umm, itu saja sepertinya yang wajib dilakukan. Selebihnya sunnah.
 
Rincinan Dana
Setelah mendengar pengakuan Kepala Prodi tentang ketidakwajiban membawa makanan untuk para dosen dan peserta sempro, maka aku tak ambil pusing akan hal ini. Soalnya ada kejadian, beberapa temen yang sempronya dua kali. Hmm, kalo buat sidang memang ada taklimat tentang pelarangan ini membawa konsumsi. Sempro mah nggak ada.

Faktanya, membawa makanan untuk semua yang hadir di sempro jadi semacam tradisi. Temenku ada yang maksain temen bawa makanan meski bulan puasa. Yang macam makanan ringan yang berbungkus itu. Katanya, dimakan nanti pas berbuka..

Ya, jadi bisa dibilang bawa konsumsi itu sunnah. Yang penting isi seminarnya.

Yup, because the content is the king. Yang setuju angkat tangan :D

Untuk dana, aku tak terlalu banyak mengeluarkan. Paling banter bengkak di ngeprint. Tapi biar hemat, kita beli kertas sendiri. Aku kemaren itu ngeprint-nya kena 150-200 per halamannya. Kalo biasa 300-500. Itu kalo ngeprint di Madani, Perum. Telang Indang Barat No, 42 H Kamal Bangkalan.

Konsumsinya aku kemaren beli snack keju dan coklat, umm kena berapa ya. Pokonya sama air kardusannya dan buat konsumsi para dosen itu, totalan semuanya sama cetak berkas-berkas nggak nyampe seratus ribu.

Soalnya kita patungan. Aku sempronya bareng sama Teh Insan. Lumayan nggak terlalu menguras dana. Bulan ini malah yang sempro sukanya bareng empat-empat orang. Ya, itulah barakah bil jama’ah.

Minta padaNya
Minta terus dalam untaian do’a-do’a di sepertiga malam. Bangun, di kala yang lain tertidur lelap. Kita hidup membutuhkan DUIT; doa, usaha, ikhtiar dan tawakkal. 

Setelah semua perlengkapannya lengkap, jangan lupa do’a. Kan usahanya sudah tuh, yang belum kita tinggal tawakkal. Pasrah sama Allah. Minta, semoga diberikan yang terbaik. Minta dimudahkan dan dilancarkan.

Kisah Sempro
Jikalau kita mendekat ke Allah dengan berjalan, ia akan mendekati kita dengan berlari. Begitu sebuah hadits qudsi mengatakan. Kemarin itu alhamdulillah, aku merasakan begitu banyak pertolongan Allah yang datang ketika persiapan sempro.

Aku ACC sempronya Jum’at, Selasanya Sempro. Karena Sabtu-Minggu kampus libur, jadilah ngurus persiapannya baru bisa Senin. Asal kita mau, Allah pasti bantu. 

Pas Seninnya itu aku belum bisa memberi kepastian sempronya kapan, cuma ya itu minta didoakan aja kalo ada yang nanya-nanya. Anyway, ada yang suka sebel tak, kalau ditanya, kapan sempro, kapan sidang, sudah bab berapa? Tak usah manyun :D Yang sabar. Anggap aja bagian dari skripsi, haha.

Okay, kita balik lagi. Jadi aku Senin baru ngurus gedung, ngasi undangan ke dosen ngecek plagiarism dan sebagainya, dan sebagainya. Alhamdulillah dimudahkan banget hari itu. 

Butuh tanda tangan Pak Iqbal, kebetulan beliaunya baru aja masuk ruang TU FISIB. Mau ketemu Pak Eko, eh, langsung papasan di tangga dan ditanggapi dengan ramah. Janjian sama Ms. Desi siang, tapi karena ketemu adik kandungnya di depan kantor prodi, jadi langsung cus ketemu Mbaknya.

Tapi kalau bisa ngurus jauh-jauh hari ya itu lebih baik, but in that case aku kan sami’na wa atha’na  sama dosen. Disuruh sempro Selasa sama Teh Insan ya ikut aja. Kan katanya kalau kebaikan nggak boleh ditunda-tunda. Pamali! Nanti moodnya keburu menghilang. Iya deh iya :D

Alhamdulillah karena dibantu Allah dan doa mentemen kelar sehari itu juga. Yapp, sehari jadi! Yokatta.

Allah mah suka kalo seorang hamba minta padaNya. Allah Maha Besar, minta deh yang besar-besar. Kan katanya kalo mau minta surga, mintalah yang surga Firdaus yang berada di tingkatan tertinggi. Nggak cuma mintak IPK 3,0 mintalah yang cumlaude. Aamiin doakan yang semoga. Bismillah, yuk banyakin usaha, siapa tahu thesisnya dapet A, siapa tahu bisa dapet inspiring thesis nanti.

Yuk,yuk! Kalau bisa wisuda Maret ini ngapain nunggu Sepetember nanti.

Semangat nyekrip! Yuk, lanjut bab empat agar wisuda makin semangat ^0^ 

NB: sebenarnya kalau kamu rajin mengunjungi UTM English Dept Post sama web Sasing semuanya sudah lengkap termaktub di sana.

Sabtu, 22 Oktober 2016

Bukan Bebukitan Teletubbies [Exploring Jaddih in MBT]


Mendatangi Kenangan

Kenangan, bisa membuat berbagai macam perasaan baru. Ia kadang datang membawa kisah haru bahkan hingga hari ini. Kukisahkan padamu bagaimana ia terjadi dan datang dari masa lalu. Sebuah dongeng yang akan berlumut jika tak segera kuceritakan padamu. Perjalanan yang terjadi mundur dari sekarang seminggu.

Bbrrr, dingin sedikit menghadang kami. Embun masih masih menggelayut di permukaan hijau dedaunan. Sedang kabut masih terjaga di jalanan. Belum jam enam dan mentari masih malu-malu. Kurapatkan jaket sementara motor terus melaju membelah pagi.


Bergerak dari titik Desa Telang, tempatku bertahan selama empat tahun. Ah, kurindu kehidupan baru lainnya. Bergerak ke utara, bebelok di Pasar Socah. Berkendara lurus hingga mendapati persawahan dan rumah warga yang halamannya rimbun ditumbuhi hutan salak. Sedangkan pagi masih sepi di daerah Kebun Celleb. It took half hour for a journey.



Tujuan utamaku pagi itu menuju lokasi MBT [Muslim Basic Training], kegiatan diklat anggota baru LDK MKMI berlangsung di sana. Bersama Mbak Neneng aku ditemani. Sesampainya di PP. Baiturrahman, sambutan hangat para panitia menjadi jamuan kami. Di sanalah kemudian cerita ini bermula.


Mulai Mendaki Waktu

Para peserta sedang berolahraga dan diberi pengarahan oleh panitia saat kami bergerak menuju lokasi outbond. Ada empat pos yang harus dilalui, jadi sepertinya masa menahan mereka. Aku tak tahu apa yang disampaikan panitia lainnya di sana.

Bersama para penjaga pos aku dan Mbak Neneng berangkat. Tak tahu pasti apa yang akan terjadi. Namun Dek Uul mengajakku ikut serta berjaga di pos empat. Dengan kaki kami pergi dan mulai berjalan mendaki. Melewati jalanan yang penuh dengan pepohonan rindang yang melindungi.

Mari Pak..


Bingung awalnya mau bagaimana menyapa warga. Meski sama-sama Madura tradisinya pasti tak sama tiap daerah. Di Pamekasan misalnya, biasanya jika melewati rumah atau kerumunan warga bilangnya, glenuun.. atau nyaraa. Di Sumenep, di rumah nenek biasanya menyapanya dengan kata, ngapora..


Namun akhirnya kata yang terlontar, “mari Pak..”Aku dan Dek Uul yang sama-sama orang Pamekasan akhirnya tak bisa menahan tawa. Haha..


Batu besar menuju Jaddih seperti penjaga gerbang yang menyambut kami tiba. Juga nyanyian burung yang bercericit riang. Seakan berkata, welcome to Jaddih Hill, dakwah doers..

Bersama Para Sahabat


Bukit Ukhuwah
Sambil menunggu peserta diklat tiba di pos empat kami melakukan beragam aksi. Ceruk dalam bukit Jaddih yang serupa gua menjadi lokasi syuting kami. Ya, kami berlagak laiknya bermain drama di depan kamera. One, two, three, say, whoaa!

Banyak gua sebenarnya di lokasi wisata bukit Jaddih ini. Ceruk yang terjadi karena warga masih melakukan penambangan kapur di lokasi. Ya, meski telah dibuka sebagai daerah wisata, masih saja banyak para penambang yang melakukan aksi tambang-menambangnya.


Batu-batu kapur yang diangkut, dipanaskan di atas tungku pembakaran yang besar. Dan kemudian akan dibuat untuk bahan bangunan. Memang benar, di Madura, tak banyak orang yang mendirikan rumah menggunakan batu bata merah. Kebanyakan fondasinya menggunakan batu kapur putih seperti di Jaddih.



Seputih Bersih
Tak hanya bukit Jaddih, ada banyak lokasi penambangan di Madura. Letaknya hampir merata di seluruh kabupaten. Namun sepertinya yang baru diblow up dan benar-benar digarap dengan serius sebagai daerah wisata hanya Jaddih.

Di Pamekasan ada juga. Nah itu dia. Awalnya aku hampir menyerah mendatangi bukit Jaddih. Karena apa? Karena isu yang tidak enak tentu saja. Makanya aku berencana mendatangi bukit kapur yang di Pamekasan saja. Belum sampai ke sana, Jaddih lebih dulu mengundangku.


Alhamdulillah, waktu ke Jaddih kemarin tak terjadi hal-hal aneh seperti yang dikhawatirkan banyak orang. Lagipula, ratusan pengunjung membanjiri lokasi wisata saat aku ke sana. Hmm, semoga cuma gosip saja. Dan jika itu nyata, semoga tak terjadi lagi di masa mendatang.


Menggali Potensi
Terkait penambangan batu kapur di Bukit Jaddih, ada sebuah opini yang mengatakan, truk-truk pengangkut bebataan dan alat berat yang masih di sana dikarenakan membentuk kenangan. Membuat struktur baru wisata bukit jaddih. Bentuk lokasi baru yang akan meramaikan wahana wisata.

Selain bermain drama, sambil menunggu peserta kami juga memiliki outbound sendiri. Tepat di seberang deretan gua-gua. Di pinggir danau hijau, kami berlomba melemparkan batu. Batu siapa yang paling jauh. Ah, aku tak pernah menang. Meski mecoba dengan batu paling besar, maupun terkecil. Jadi aku jari juru kamera saja.

Tetap saja aksi mereka nantinya akan menjadi kenangan..


Melempar Kenangan

Ngomong-ngomong tentang peserta, aku dan Mbak Neneng mendapat amanah menjaga pos bayangan. Yeay, akhirnya, dapat tugas! Sebelumnya di pos awal, peserta mendapatkan tugas untuk menjaga amanah yang hanya diberikan padaku maupun  Mbak Neneng.

Masing-masing kami mendapat dua titipan. Tapi sepertinya ada yang kelupaan atau barangnya hilang di jalan. Ya, yang mereka bawa itu sebuah benda. Buah berwarna jingga terang berwarna berbentuk seperti labu runcing bertekstur kasar seperti buah pare. Jadi kami hanya dapat satu.

Menuju Puncak



Mengejar Mimpi
Bukan bebukitan Teletubbies namun ialah puncak kenangan yang mungkin tercampakkan atau tertanggalkan. Angin begitu dingin kurasa. Jaket tak lagi kubawa. Kutinggalkan ia di basecamp panitia.

Maka mulailah aku bersin-bersin tanpa rencana. Untungnya Mbak Neneng berbaik hati meminjamkan jaketnya. Berada di puncak membuatku sibuk mengabadikan kenangan. Menangkapnya dengan cara terbaik. Memotret cerita dalam bingkaian lensa. Hingga kenangan itu sempurna tak terlupakan.


Masih Menanti
Anehnya saat aku berhenti mengambil gambar angin kembali menusukkan rasa dingin. Lucky me, ada sapu tangan bersih yang kubawa. Talking about this thing, jadi teringat kebiasaan orang Eropa yang ke mana-mana membawa sapu tangan. Teringat film Oliver Twist yang sering mencurinya dari para bangsawan. Ya, di Eropa sana, sapu tangan begitu berharga.

Jalanan menuju puncak tak terlalu lama. As I told you before, that was a hill not a mountain. Hanya saja panas menyengat. Jadi sesekali kami berhenti mengatur nafas.


Telaga Kenangan
Menujunya banyak sekali wahana dan pemandangan yang bisa pengunjung nikmati. Danau hijau dekat pintu masuk tempat kita berlomba lempar batu, bukit kapur kala kita berdrama ria, Telaga Warna yang bergerak dari biru ke hijau, kolam renang, Danau Biru, dan Bukit Jaddih tujuan utama kita waktu itu. 

Kau bisa sesekali berhenti, mengabadikan kenangan akan pemandangan dan sahabat yang begitu menyenangkan. Dengannya lelah takkan lagi terasa. Mentari yang kian meninggi, panas yang memanggang sekali lagi dan peluh yang tanpa sadar mulai bercucuran akan hilang sama sekali.

Ujung Kenangan
Berbagi Kenangan
Tulangku benar-benar remuk. Sakit yang membuatku hengkang selama satu semester kemarin rupanya masih menyisakan kenangan dalam tubuhku. Terlebih lagi, paginya aku sempat makan walau sesuap nasi.

Tibanya di puncak, aku tak lagi bisa bergerak leluasa. Dadaku rasanya menyempit sesak. Aku tak dapat mengikuti acara puncak. Proses pelegalan peserta diklat MBT menjadi anggota baru LDK MKMI.

“Rasa cinta yang mengharu biru,” angin menyampaikannya padaku di bawah rerindangan pohon. Hanya kata-kata itu yang sampai di telinga. Yang lain entahlah. Aku sibuk menata keadaan. Menjadi siluet di bawah panasnya terik mentari.


Pohon Kenangan

Pekik takbir kemudian menyusul. Mereka telah legal kini. Ikrar anggota telah terucapkan. Semoga para anggota ini istiqamah di jalan dakwah. Membuat cita akan kampus madani tak lagi sebatas mimpi.

Selamat berjuang, Dek. amanah akan semakin berat nantinya. Deru redam amarah mungkin akan datang. Cobaan akan selalu menghadang bagai aral melintang di jalanan. Namun percayalah, Allah akan selalu ada. Allah akan senantiasa bersama kita. Membantu kita yang di bergerak memperjuangkan agamanya.


Hai orang-orang mukmin,
jika kamu menolong agama Allah,
niscaya Ia akan menolongmu pula.
Serta meneguhkan kedudukanmu.
[Muhammad: 7]

Maka bersabarlah, Dek. Jalan ini memang takkan mudah akan tetapi kerjakan semuanya ikhlas lillah. Sesungguhnya janji Allah adalah benar. Dan siapakah yang lebih benar perkataannya dari pada Allah? Begitu indah kalamNya, bukan? Ia termaktub rapi dalam Surat An-Nisa’ ayat duadua dan Ghafir, tujuhtujuh.

Buatlah ia menjadi kenangan, sebuah masa yang takkan terlupa hilang, hanyut bersama masa.


Allahu Akbar!
PS: There many things I want to tell you, tapi takut terlalu banyak spoiler tentang Jaddih, jadi kubiarkan ia menjadi misteri agar kaurasakan petualangannya sendiri ^^